Dirut BRI Suku Bunga Menjadi Acuan Tetap Sinyal Positif Bagi Perbankan

Dirut BRI Suku Bunga Menjadi Acuan Tetap Sinyal Positif Bagi Perbankan

Dirut BRI Suku Bunga Menjadi Acuan Tetap Sinyal Positif Bagi Perbankan

Dirut BRI Suku Bunga Menjadi Acuan Tetap Sinyal Positif Bagi Perbankan

Direktur utama dari PT Bri (Bank Rakyat Indonesia) tbk menilai tentang kebijakan bank indonesia dengan menahan suku bunga acuan sebanyak 4,25 persen. Hal ini bisa menjadi sinyal yang baik bagi seluruh perbankan di indonesia.

“Alhamdulilah BRI sendiri tidak naikkan BI rate. Tentunya inilah sinyal positif untuk kami sebagi perbankan, terutama BRI. Sebab ke depannya kita selalu berupaya bagaimana suku bunga pinjaman itu bisa menurun lagi,” ungkap suprajarto pada jumpa pres di RUPST (rapat umum pemegang saham tahunan) 2018 di kantor BRI pusat, jakarta pada hari kamis.

Beliau pun menyebutkan bahwa suku bungan pinjaman KUR BRI di tahun ini sudah mampu turun menjadi 7 persen saja yang sebelum adalah 9 persen setiap tahunnya. BRI juga sudah berusaha untuk bisa menurunkan suku bunga pinjaman secara komersial. Namun ini butuh upaya yang maksimal untuk mendapatkannya.

“BRI selalu berusaha bagaimana bunga kredit yang dapat lebih memberikan harapan terbaik. Di samping itu, CASA aau dana murah selalu kita upayakan jauh lebih baik lagi,” ujarnya.

Beliau juga mengakui bahwa untuk saat ini perseroan memang harus selalu menjalankan upaya efsiensi dalam sistem operasional perusahaan sehingga biaya dana mampu ditekan. Mengingat bahwa unit kerja dari BRI cukup luas dan sudah ada di seluruh indonesia.

Menurutnya, melalui terobosan serta pengembangan inovasi teknologi informasi, biaya dari overhead perusahaan dapat ditekan agar jauh lebih rendah dan bisa lebih efisien. Sehingga dari sini bisa menekan biaya dana yang ujungnya mampu menurunkan tingkat suku bunga pinjamannya. Dengan demikian, suprajarto sangatlah berharap institusi pemerintah yang dananya disimpan di BRI juga tidak meminta suku bunga yang lebih tinggi dengan yang lain.

“Kita berharap pelan-pelan kita dapat meninjau dan mengevaluasi kembali. Namun kami juga sangat berharap bagi institusi pemerintah juga tidak terus meminta bunga yang tinggi. Sebab jika dana-dana berkaitan dengan institusi masih selalu tinggi, kami juga terlalu repot,” ujarnya.

Sebelumnya, pihak bank indonesia menahan dari sukku bunga acuannya sebanyak 4,25 persen pada pertemuan dewan gubernur di bukan maret 2018, untuk memberi antisipasi dampak naiknya suku bunga moneter the federal reverse dan potensinya naikknya inflasi dari sisi domestik dan beberapa kelompok barang yang diatur sendiri oleh pemerintah.

Baca artikel kami sebelumnya mengenai: percepat migrasi kartu debit pakai chip bi terus desak pelaku perbankan

Untuk suku bunga penyimpanan dana perbankan di bank indonesia juga masih tetap hanya 3,5 persen dan penyediaan dana dari bank indonesia tetapi sebesar 5 persen. Di sini BI sebagai sentral dari seluruh perbankan yang ada di indonesia selalu mengupayakan untuk menjaga suku bunga yang dimilikinya dalam segi apapun itu agar nanti lebih bisa dijadikan acuan. Bahkan jauh lebih baik lagi suku bunganya bisa menurun.

Bank indonesia juga selalu mengupayakan bagaimana suku bunga yang menjadi acuan ini selalu dipandang baik meski itu naik sekali pun. Memangh jika suku bunga turun, seluruh perbankan ikut senang. Namun jika sukku bunga naik, pasti banyak perbankan yang tidakk diterima dan menginvestigasi tentang penyebab naiknya suku bunga. Inilah yang menjadi titik permasalahan yang sesungguhnya.

Alangkah baiknya jika seluruh perbankan benar-benar mampu mengambil pelajaran dari suku bunga yang saat ini ada dan dijadikan acuan yang mengarahkan pada segi positifnya. Sehingga yang terjadi suku bunga baik itu naik maupun turun juga mampu dibuat pelajaran yang harus dipahami betul.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/695188/dirut-bri-suku-bunga-acuan-tetap-sinyal-positif-bagi-perbankan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *